Pertama kalinya ke Jepang? Bersiaplah Menghadapi Culture shock!! - Okonomikatsu

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 20 Oktober 2013

Pertama kalinya ke Jepang? Bersiaplah Menghadapi Culture shock!!




Konbanwa minna-san, ohisashiburi desune. Mimin-san hamyo kangen banget ni sama minna-san semua. Udah lama banget semenjak postingan terakhir di blog, meskipun sekarang kita sudah terpisah jarak waktu 2 Jam Indonesia – Jepang tapi mimin-san harap okonomikatsu tetep bakal mempersatukan kita semua. *peluk minna-san satu satu*

Sudah hampir satu bulan di Jepang, banyak banget hal hal asing yang mimin-san temui selama berada di negri matahari terbit ini. Satu kesimpulan yang bisa mimin-san tarik dari satu bulan pengalaman berada di Jepang sampe sekarang yaitu, kehidupan di Jepang yang asli tidak lah seindah yang ada di anime. Iya, kehidupan disini bisa dibilang cukup ribet bagi mimin-san yang masih kebawa kebiasaan kebiasaan lama di negara kita tercinta, terlebih lagi ini adalah kali pertama mimin-san menginjakkan kaki di negri sakura.

Culture shock pastinya gak bisa dihindari lagi. Naah… sebenernya culture shock itu apa sih? Culture shock itu bagi mimin-san sendiri sih bagian dari adaptasi diri kita terhadap hal hal yang ada di suatu komunitas masyarakat yang memiliki background kebudayaan serta kebiasaan yang berbeda (mulai ngelindur bahasanya). Semakin cepat minna-san memahami dan bisa dengan ikhlas menerima hal hal baru bahkan mungkin berbeda jauh dengan kultur serta kebiasaan kebiasaan yang minna-san bawa dari negara asal, semakin cepat pula minna-san bakal melewati masa masa culture shock ini.     

Salah satu usaha yang bisa kita lakuin buat menghadapi culture shock ini adalah mengenal lebih dulu lingkungan baru yang bakal kita tempati sebelum kita benar benar berada disana. Banyak hal yang mungkin bisa membuat minna-san mengalami culture shock ketika berada di Jepang untuk kali pertama, berikut beberapa culture shock yang mimin-san alami sejauh ini selama berada di Jepang.

1. Lost in Translation

"Oh shit..... Kanji everywhere!!"

Hal pertama yang paling mengkhawatirkan dari segala culture shock adalah kendala bahasa. Percayalah gak ada hal yang lebih ngenes dari “lost in translation “ pada saat minna-san berada di Jepang, sudah bukan rahasia lagi bahwa Jepang bukanlah negara yang awam dengan penuturan bahasa asing seperti bahasa inggris. Jadi jangan begitu berharap banyak dengan kemampuan bahasa inggris para penduduk lokal setempat, meskipun banyak juga diantara penduduk lokal Jepang yang bisa berbahasa inggris dengan lancar tapi minna-san termasuk beruntung jika bisa menemukan satu diantara mereka pada saat minna-san tersesat dan ingin bertanya arah pulang menuju penginapan minna-san.

Terlebih lagi bahasa bukan hanya sebatas penuturan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal setempat atau meminta petunjuk arah ketika tersesat. “Bahasa itu ada dimana mana!!” termasuk juga yang tertulis, jika sudah menyinggung “tulisan” di Jepang, pastinya kita tidak bisa lagi menghindar dari satu kata ini “Kanji” yap… Kanji everywhere!! Hal simpel seperti memakai toilet, mencuci pakaian dengan mesin cuci, dan memasak nasi dengan rice cooker pun tidak akan sesimpel yang minna-san rasakan ketika berada di Indonesia.

Menghadapi Lost in Translation


Seperti yang sudah dijelaskan di atas, minna-san mungkin sudah bisa menebak cara untuk menanggulangi culture shock yang satu ini. Salah satu cara nya, berusaha mempelajari bahasa Jepang dari jauh jauh hari sebelum keberangkatan, tidak perlu muluk muluk belajar siang malem buat fasih berbahasa Jepang kaya native tapi paling enggak dengan standar bisa nanya “toilet ada dimana?” dalam bahasa Jepang aja udah cukup kok. 

Minna-san bisa membeli text book bahasa Jepang dasar atau untuk pemula yang biasanya menawarkan “Lancar bahasa Jepang hanya dalam satu minggu” (meskipun kadang ngibul sih) tapi percayalah kosa kata dasar sehari hari setidaknya akan sedikit membantu minna-san dalam berkomunikasi. Jika tidak terlalu suka membaca buku, minna-san juga bisa memanfaatkan kecanggihan internet zaman sekarang dengan berbagai macam materi pelajaran online dengan hanya mengklik search bar, atau mencoba belajar melalui video di Youtube juga bisa menjadi pilihan yang menyenangkan bagi minna-san yang tidak terlalu suka berurusan dengan text book.


Satu hal lagi yang dapat membantu minna-san dalam berkomunikasi yaitu dengan mempelajari  bahasa isyarat berupa hand gesture. Masyarakat Jepang menggunakan banyak sekali hand gesture dalam komunikasi sehari hari mereka, sebelumnya kita sudah pernah membahas tentang hand gesture ini jadi minna-san bisa cek lagi artikel tentang hand gesture dalam komunikasi masyarakat Jepang jika ingin mempelajarinya lagi.

2. Kebiasaan Mengkonveri Mata Uang



Apakah bener semua hal di Jepang itu sangat mahal??  Jawabannya bisa iya tapi bisa juga tidak, salah satu yang membuat semua hal di Jepang menjadi mahal adalah pada umumnya kebiasaan kita para pendatang yang tetap mencoba memakai standar hidup kita di negara asal yang mungkin tergolong masih di bawah standar hidup orang Jepang yang memiliki tingkat taraf hidup yang lebih tinggi, tentu saja ini membuat semua hal menjadi mahal. Salah satu kebiasaan yang termasuk menimbulkan culture shock adalah kebiasaan membandingkan standar harga dengan cara mengkonversi harga barang dalam yen ke mata uang kita yang nilai tukarnya lebih rendah dari pada yen otomatis harga semua barang barang kebutuhan sehari hari akan terasa amat sangat mahal. Bahkan produk dengan brand yang sama sekalipun akan terasa lebih mahal di Jepang karena kebiasaan tetap membandingkan nilai tukar ini.



Jepang memiliki standar hidup yang tinggi dan tidak bisa dipungkiri lagi jika banyak hal di Jepang itu mahal, itu adalah fakta. Tapi mahal bagi siapa? lain cerita jika minna-san datang untuk tinggal dalam jangka panjang seperti study atau bekerja di sebuah perusahaan, maka seiring berjalannya waktu minna-san akan terbiasa dengan standar hidup masyarakat Jepang yang tinggi dan mulai menerapkan itu kepada standar hidup minna-san sehingga 120 yen tidak akan terasa begitu mahal lagi bagi minna-san.

jika minna-san datang ke Jepang sebagai turis untuk menginap dalam jangka waktu tertentu yang tergolong singkat, maka Jepang akan menjadi mahal bagi minna-san. Saran yang tepat bagi minna-san yang akan stay di Jepang dalam jangka pendek yaitu hindari mengkonversi setiap harga belanjaan dengan harga mata uang kita, jika minna-san tetap melakukan kebiasaan mengkonversi harga barang ini otomatis semua akan sangat terasa mahal bagi minna-san sehingga pada akhirnya minna-san takut untuk mengeluarkan sepeser pun karena akan terasa menjadi pemborosan. Bagaimana tidak shock coba kalo uang 50 ribu yang biasa kita taruh dibagian teraman dalam dompet kita hanya akan menjadi sebuah uang koin 500 yen bagi mereka, hal ini yang terkadang menjadi sebuah culture shock.



Pada awalnya mungkin minna-san akan terasa enggan mengeluarkan 120 yen hanya untuk satu kaleng soft drink di vending machine yang jika kita coba konversi dengan mata uang negara asal, kita dapat membeli paling tidak 2 kaleng soft drink dengan brand yang sama dengan jumlah uang tersebut. Jadi sebisa mungkin cobalah untuk menyesuaikan diri dengan standar hidup masyarakat Jepang yang tergolong tinggi, Jepang sih ya.

3. In Japan, be on time!!

Sebagai orang Indonesia yang berbudaya, gak bisa dipungkiri kebanyakan dari kita menjunjung tinggi budaya jam karet. Tentunya mimin-san percaya tidak semua dari minna-san penganut kebudayaan ini, tapi bisa dibilang mayoritas dari kita termasuk juga mimin-san, hehehe *ditimpuk

Tepat waktu sudah menjadi kebiasaan sehari hari masyarakat Jepang, mulai dari jam operasional kantor, jam buka toko toko kecil, hingga pada jadwal transportasi publik semuanya benar benar tepat waktu. Hal yang sangat asing bagi mimin-san tentunya sehingga culture shock yang satu ini cukup merepotkan pada awalnya. Tetapi hal ini bagus untuk melatih diri kita menjadi lebih menghargai yang namanya waktu dan lebih disiplin lagi, sehingga bisa dibilang mimin-san cukup menikmati culture shock yang satu ini mulai dari lari larian menuju halte bis karena telat satu menit saja itu sama artinya dengan “selamat menunggu bis berikutnya”.

Membiasakan diri untuk tepat waktu




















Satu satunya tips yang bisa mimin-san kasih buat minna-san untuk menghadapi culture shock yang satu ini adalah terbiasalah untuk memberi waktu tenggang sebelum melakukan suatu hal, contohnya nih misalkan bis bakal tiba di halte pada pukul 16:00 maka usahakan untuk sudah tiba (bukan baru ngiket tali sepatu di teras rumah ya) di halte paling tidak 10 menit sebelum bis tersebut tiba. Jadi gak ada lagi kasus ketika janjian jam 10:00 dan ternyata pas jam 10:00 nya minna-san baru gosok gigi di kamar mandi, sekali lagi culture shock ini bagus untuk melatih kedisiplinan kita jadi ya nikmati aja deh minna-san, be on time ya!! J

4. Menyesuaikan Pantangan Makanan dan Minuman


Tidak ada lagi rendang, nasi padang, nasi goreng, es cendol manis, dan restoran padang sepanjang mata memandang (kemudian lapar). Salah satu kengenesan sebagai pendatang di Jepang adalah sangat sulit untuk menemukan makanan yang cocok dengan lidah Indonesia yang pada umumnya suka sama yang pedes karena percayalah “sepedes pedesnya wasabi bakal lebih pedes lagi kuah rendang di restoran padang pinggiran jalan di Indonesia”.

Bicara soal makanan tidak sebatas cuma karena soal selera, lebih jauh lagi beberapa alasan tidak memungkinkan kita untuk mengkonsumsi semua kuliner yang ada di Jepang, seperti karena alasan kepercayaan dan juga alergi terhadap suatu bahan makanan tertentu. Mimin-san juga termasuk salah satunya, karena sebagai seorang muslim maka ada banyak sekali kuliner Jepang yang terkenal dan katanya enak tetapi tidak dapat mimin-san santap.

Salah satu nya adalah ketika mimin-san masih berada di Indonesia, mimin-san punya janji sebagai motivasi diri yaitu “gak bakal makan ramen sebelum mimin-san berhasil menginjakkan kaki di negri sakura” dengan kata lain ramen pertama yang mimin-san nikmati haruslah berada di Jepang, akan tetapi mimin-san lupa hampir semua ramen di Jepang tidak bisa mimin-san konsumsi jadi pada akhirnya ramen pertama yang mimin-san makan adalah mie instan rebus yang mimin-san bawa dari Indonesia.

"Sayonara Ramen......"

Tips yang bisa mimin-san kasih untuk minna-san adalah jangan sungkan sungkan untuk tetap teguh pada kepercayaan minna-san masing masing. Jepang juga kaya akan kulinernya, jadi masih banyak pilihan kuliner yang bisa minna-san nikmati di Jepang terlebih lagi juga ada banyak cara yang bisa minna-san lakukan untuk menjelaskan pantangan pantangan kuliner selama berada di Jepang salah satunya adalah dengan kartu tanda pantangan kuliner yang juga sudah pernah kita bahas di artikel sebelumnya, jadi jangan takut untuk menikmati kuliner Jepang yang kaya akan pilihan. J


Bagaimana dengan minna-san yang sudah merasakan momen “pertama kalinya datang ke Jepang” apa yang minna-san rasakan, dan culture shock apa saja yang minna-san alami. Jika minna-san memiliki tips tips tambahan untuk menanggulangi berbagai macam culture shock di Jepang, jangan sungkan untuk sharing pengalaman kalian di kolom komentar ya, pengalaman kalian akan sangat berhaga bagi yang lain. Douzoo…. J   

Author:
PJ 

1 komentar:

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here